Sekam Padi Sebagai Bahan Pembuatan Biodesel Energi Terbarukan Masa Depan
Energi berperan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan serta merupakan pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Penggunaan energi di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Energi yang selama ini digunakan merupakan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Sumber energi tersebut merupakan sumber energi tak terbarukan dan cadangannya akan habis dalam beberapa tahun ke depan. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2005 mengatakan bahwa sekitar 63% dari kebutuhan energi final Indonesia masih bergantung pada minyak bumi di mana lebih dari 60 % untuk sektor transportasi. Sumber minyak bumi terbukti (proven) saat ini sekitar 9 milyar barel dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun. Dengan demikian, sumber energi tersebut akan habis dalam waktu 18 tahun (Kementerian ESDM,2005).
Masalah lain dari pemakaian bahan bakar fosil sebagai sumber energi yaitu timbulnya efek negatif terhadap lingkungan. Salah satu efek tersebut adalah efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan udara bahkan pemanasan global. Menurut pencatatan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2007, salah satu penyebab terbesar dari pencemaran lingkungan udara adalah berasal dari tipe emisi partikulat. Ternyata, besarnya emisi partikulat yang mencemari udara Indonesia cenderung mengalami peningkatan.Kontributor terbesar dari besarnya jumlah emisi partikulat yang mencemari lingkungan udara Indonesia adalah kendaraan bermotor. Partikulat kebanyakan berada dalam bentuk sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna (jelaga) ataupun dari pengotor yang terdapat di dalam bahan bakar (kadar sulfur yang besar). Penyebab lain pencemaran udara akibat penggunaan bahan bakar fosil adalah kualitas BBM yang dianggap kurang baik. Tingginya kadar sulfur pada bahan bakar turut memberikan andil atas buruknya kualitas udara.
Isu yang berkembang di dunia saat ini
yaitu pengeksplorasian berbagai kemungkinan sumber energi baru yang terbarukan
untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. Energi alternatif baru juga
dikembangkan untuk mengurangi pengaruh terhadap lingkungan akibat pemakaian
bahan bakar fosil. Menurut World Energy
Council (WEC) biomassa dan energi surya akan menjadi sumber daya primer
yang dominan. Di antara sumber energi yang dapat diperbaharui tersebut,
biomassa mempunyai potensi terbesar dan akan berperan penting di masa yang akan
datang (Maniatis,
1998).
Selain itu, biomassa merupakan sumber energi yang relatif langsung bisa
dikonversi menjadi bahan bakar sehingga dapat untuk mensubtitusi atau
menggantikan pemakaian energi fosil sebagai sumber energi.
Biomassa merupakan material organik yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan, dapat berupa kayu, sisa hasil hutan
dan pertanian, sisa industri, ataupun dari ekskresi manusia dan juga hewan.
Biomassa merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat potensial
dan masih perlu dieksplorasi. Sumber energi biomassa yang paling potensial
untuk dikembangkan di Indonesia berasal dari empat sektor yaitu perhutanan,
perkebunan, pertanian, dan sampah kota.
Sekam padi merupakan salah satu sumber
energi biomassa yang dapat dikembangkan di Indonesia.Data tahun 2021, menunjukkan produksi
padi Indonesia mencapai lebih dari 55,27 juta ton gabah kering giling atau setara
dengan 31,6
juta ton beras (Badan Pusat
Statistik, 2021). Namun selama ini, hanya berasnya saja yang digunakan
sekamnya dibuang begitu saja oleh para petani. Sebagai salah satu sumber energi
biomassa potensial, sekam padi dapat dikonversi menjadi bahan bakar yang dapat
mensubtitusi pemakaian energi fosil sebagai sumber energi. Bahan bakar tersebut
adalah biodiesel. Melalui proses Fischer Tropsch, sekam padi dapat dikonversi
menjadi biodiesel, yang merupakan energi alternatif potensial untuk memenuhi
kebutuhan energi dalam jangka waktu panjang serta dapat mengurangi efek
lingkungan dari bahan bakar fosil.
Pengembangan biodiesel di Indonesia
diharapkan dapat mensubtitusi impor BBM di mana konsumsi bahan bakar diesel
pada tahun 2002 mencapai 24,2 juta liter, dan 40% merupakan impor [US Embassy,
2004]. Selain itu, hal ini
diperkuat dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 tahun 2008 dimana sektor
transportasi, industri dan pembangkit listrik di wajibkan untuk mensubtitusi
bahan bakar fosil dengan BBN pada presentase tertentu secara bertahap. Pengembangan
biodiesel diharapkan dapat meningkatkan keterjaminan pasokan energi dan
menyehatkan neraca pembayaran via penghematan devisa, membuka banyak lapangan
pekerjaan baik untuk pemenuhan bahan baku maupun keperluan produksi dan
perniagaan, mengurangi polusi, pemerataan pembangunan ke seluruh daerah di
Indonesia, memenuhi kebutuhan energi dalam jangka waktu yang lama, serta
mempercepat peningkatan kemampuan bangsa
dalam mengembangkan dan mengomersialisasikan teknologi. Potensi pengembangan
biodiesel di Indonesia juga didukung oleh kajian terbaru mengenai energi. Di
mana telah direncanakan adanya Indonesia
Energy Mix menurut Keppres. No.5 tahun 2006 yang akan mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil dan memperbanyak penggunaan biofuel hingga mencapai 5% pada
tahun 2025 [Djaja, 2006].
Keuntungan
penggunaan biodesel ini yaitu
:
1.
menurunkan fraksi karbon dari partikel
padatan
2.
menurunkan fraksi sulfat
3.
dapat meningkatkan kinerja mesin
4.
Lebih ekonomis dan meningkatkan pembakaran
1.1 Permintaan dan Penawaran
Menurut data historis mengenai permintaan bahan bakar solar untuk ADO (Automotive Diesel Oil ) dari tahun 2016 sampai 2020, terjadi kenaikan akan permintaan solar pada tahun tersebut. Berikut ini dapat dilihat data trend permintaan dan penawaran ADO tahun 2016-2020.
Dari data
diatas dapat dilihat bahwa penawaran terhadap ADO cendurung konstan tiap
tahunnya. Hal ini di sebabkan kapasitas produksi dari produsen solar di Indonesia
cendurung tidak mengalami peningkatan. Sedangkan permintaan ADO setiap tahunnya
mengalami kenaikan sekitar 10% per tahun akibat meningkatnya jumlah kendaraan
dan tumbuhnya sektor industri sehingga menimbulkan adanya selisih penawaran dan
permintaan yang semakin besar tiap tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan ADO di
pasaran, maka dilakukan impor dari luar negeri setiap tahunnya. Penggunaan
biodesel bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia untuk
mengimpor solar dari luar negeri.
Dari data
historis penawaran dan permintaan biodesel di buat semacam prediksi permintaan
akan solar beberapa tahun yang akan datang dengan metode least square.
Dari rumus diatas didapatkan hasil
sebagai berikut :
Tabel 1.2
Perhitungan Menentukan Nilai a dan b (Penawaran)
Di dapatkan nilai
a =
13381.73918
b =
56.5817
Tabel 1.3 Perhitungan Menentukan Nilai a dan
b (Permintaan)
Di dapatkan nilai
a = 19952.54332
b = 1154.25435
Dengan metode least quare di
dapatkan harga permintaan dan penawaran ADO dari tahun 2020 -2025 mengalami peningkatan
per tahun.
Tabel 1.4 Permintaan dan Penawaran ADO
2020-2025
Adanya
selisih antara supply dan demand dari bahan bakar solar menyebabkan jumlah penawaran solar
dengan jumlah permintaannya tidak seimbang. Dari grafik ini, tampak
bahwa masih ada demand yang sangat besar akan kebutuhan solar itu sendiri.
Jumlah kebutuhan biodiesel sendiri sangat besar di dalam negeri dan luar negeri. Indonesia menargetkan dapat mensubtitusi 10% dari kebutuhan ADO oleh biodesel sesuai dengan targetan pemerintah yang dituangkan dalam Perpres No. 5 Tahun 2017 dan Inpres No. 1 Tahun 2017. Perkirakan pemakaian solar per tahun akan meningkat hingga mencapai nilai rata-rata sebesar 35.000.000 ton pertahun bahkan lebih. Apabila memakai 10% biodiesel maka dibutuhkan total supply biodiesel 3.500.000 ton/tahun. Sementara kemampuan produksi biodiesel pada 2018 baru sebesar 1.875.000 ton/tahun. Tabel 2. 3. memperlihatkan beberapa produsen biodiesel di Indonesia untuk tahun 2018.
Tabel 1.5 Produsen Biodiesel dan Kapasitas Produksi
Perhitungan
kapasitas biodesel sebanyak 500000 ton/tahun ini dilihat dari ketersediaan
bahan baku. Menurut data BPS pada tahun 2021 menunjukkan bahwa produksi padi di
daerah Indramayu kurang lebih 50 juta ton/ tahun. Dimana lebih dari 30 juta ton
terkonversi beras dan sekitar 5 juta tonnya dikonversi menjadi sekam padi.
Sekam padi dapat dikonversi 25%
menjadi biodesel. Sehingga dari perhitungan :
Jumlah sekam padi = 5,000,000 ton/tahun
Basis Operasi = 300 hari
Jumla sekam padi yang digunakan per
harinya =5,000,000 / 300
Maka keluran Reaktor FT
= 16666.66667 x 25% = 2566.295 ton/day
Berdasarkan literatur
diesel berkisar 83.5% dari 70% kerosin diesel sehingga didapatkan perhitungan =
2566.295 x 83.5% = 1700 ton /day
Produk diesel 1700 ton/
day = 1700 ton/day x 300 = 510,000 ton/ day sehingga untuk kapasitas diesel
dipilih 510,000 ton/tahun.
berdasarkan ketersediaan raw material maka pabrik kami
direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 500.000 ton/tahun (sekitar 11300 barel/hari) atau 14
% dari total kebutuhan biodiesel di pasaran.
Gambar
1.3 Market
Penawaran Biodiesel
1.1 Pemilihan
Lokasi
Letak atau lokasi geografis suatu pabrik
merupakan unsur yang sangat penting peranannya dalam kelangsungan operasi suatu
pabrik. Pada prinsipnya pabrik didirikan pada lokasi dimana biaya produksi dan
distribusi bisa dicapai seminimal mungkin ataupun dekat dengan sumber bahan
baku. Di samping itu, faktor lain seperti lahan kosong yang dapat dimanfaatkan
untuk ekspansi, faktor keamanan ataupun kondisi sosial masyarakat sekitar dan
kondisi lainnya juga harus diperhatikan. Dengan demikian suatu pabrik dapat beroperasi
dengan baik dan lebih optimal tanpa adanya gangguan yang dapat menghambat
kegiatan dalam suatu pabrik.
Pada dasarnya, pemilihan lokasi pabrik
harus terlebih dulu didasarkan pada survei keuntungan dan kerugian dari
beberapa daerah pilihan. Daerah yang menjadi pemilihan berdirinya pabrik ini
adalah Indramayu, Karawang, serta Bekasi. Pemilihan daerah ini didasarkan
pertimbangan beberapa aspek, yaitu sebagai berikut.
· Bahan
baku
Bahan
baku yang diperlukan adalah gabah kering dan sekam padi kering. Bahan baku ini
banyak terdapat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur. Berdasarkan
data yang didapatkan, jumlah bahan baku terbanyak berada di daerah Jawa Barat.
· Pasar
Produk
dari pabrik ini yang berupa biodiesel akan langsung didistribusikan ke PT.
Pertamina (Persero). Sehingga pabrik ini diharapkan berada di dekat dengan
pasar sehingga memudahkan pendistribusian.
· Fasilitas
Lokasi
pabrik ini diharapkan mudah dilalui melalui jalan darat sebagai sarana
transportasi, pengangkutan bahan baku, pendistribusian produk, dan mobilitas
pekerja. Selain itu fasilitas telekomunikasi serta fasilitas umum lainnya yang
mendukung kegiatan pabrik.
· Utilitas
Utilitas
yang diperlukan dalam pabrik ini adalah listrik dan air. Lokasi berdirinya
pabrik diharapkan mempunyai pasokan listrik dan air yang cukup besar sehingga
dapat memenuhi kebutuhan
pabrik. Pasokan listrik didapatkan dari PLN ataupun dengan menggunakan
generator. Sedangkan untuk air dapat memanfaatkan sungai dan danau sekitar
lokasi atau pasokan dari PDAM.
· Keadaan
lingkungan sekitar
Tenaga
kerja diharapkan diambil dari daerah sekitar pabrik. Sehingga diharapkan pabrik
dekat dengan SDM yang dibutuhkan. Selain itu kondisi lahan, iklim juga menjadi
pertimbangan pemilihan lokasi.
Dari ketiga lokasi pabrik yang dipilih,
maka diperlukan pertimbangan lebih lanjut yakni dengan membandingan ketiga
lokasi tersebut berdasarkan aspek yang pertimbangan yang sudah dibuat.
Tabel 1.6
Perbandingan Lokasi Pabrik
Biodiesel
|
Aspek |
Indramayu |
Karawang |
Bekasi |
|
Sumber Bahan Baku |
Bahan baku cukup banyak di daerah ini dan daerah
sekitarnya. Sehingga pasokan untuk bahan baku diharapkan tetap terjaga. |
Sumber bahan baku sangat melimpah |
Bahan
baku di daerah ini ada, namun tidak banyak. Diperlukan tambahan bahan baku
dari daerah lain. |
|
Pasar |
Pemasaran produk ditujukan ke PT Pertamina
(Persero). Dimana unit pengolahan terdekat berada di daerah Balongan.
Sehingga pendistribusian mudah. |
Jarak antara pasar dengan pabrik cukup jauh. Agak
menyulitkan dalam hal pendistribusian, sehingga diperlukan biaya tambahan. |
Pasar
cukup jauh dari lokasi pabrik, sehingga diperlukan biaya tambahan dalam
pendistribusian produk |
|
Transportasi |
Sarana dan prasarana transportasi cukup baik. Namun
belum ada jalan tol, tetapi relatif bebas hambatan. |
Daerahnya mudah diakses, sehingga pembangunan
pabrik dan pendistribusian produk dapat berjalan dengan normal |
Daerah sangat mudah diakses dari mana saja. Jalan
raya sudah berkembang pesat, terdapat jalan tol menuju daerah ini. |
|
Kondisi Masyarakat |
Penduduk di daerah ini pada umumnya adalah nelayan
dan petani. |
Penduduk di daerah ini pada umumnya adalah petani. |
Penduduk di daerah ini variatif, mulai dari buruh, petani,
hingga pekerja kantoran. |
|
Utilitas |
|
|
|
|
Pasokan listrik untuk kawasan
industry di Indramayu sebesar 200 MVA |
Pasokan listrik untuk kawasan
industry di Karawang sebesar 400 MVA |
Pasokan listrik untuk kawasan industry di Bekasi
sebesar 900 MVA |
|
Pasokan air untuk wilayah ini didapatkan dari danau dan sungai di
sekitar wilayah Indramayu dengan volume air 10.000 m3. |
Pasokan air di kawasan ini sebesar 20.000 m3 yang didapat dari PDAM dan dari Sungai
Citarum. |
Pasokan air di lokasi ini sebesar 13.000 m3.
Di wilayah kabupaten Bekasi terdapat 16 sungai dengan lebar 3-80 meter, dapat
dijadikan pasokan air tambahan. |
|
Biaya Pembebasan Lahan
|
Laju pertumbuhan penduduk sekitar Indramayu tidak
terlalu besar, sehingga jumlah penduduknya relatif tetap (sedikit). Biaya
untuk pembebasan lahan relatif murah jika dibandingkan dengan daerah
industri. |
Laju pertumbuhan penduduk sekitar Karawang tidak
terlalu besar, sehingga jumlah penduduknya relatif tetap (sedikit). Biaya
untuk pembebasan lahan relatif murah jika dibandingkan dengan daerah
industri. |
Laju pertumbuhan penduduk sekitar Bekasi sudah
cukup besar, sehingga jumlah penduduknya banyak. Biaya untuk pembebasan lahan
relatif lebih mahal daripada kedua daerah lainnya. |
|
Pajak
bangunan
|
Karena daerahnya jauh dari perkotaan, maka pajak
bangunan di tempat ini lebih kecil dibanding jika bangunan industri ada di
perkotaan. |
Karena daerahnya jauh dari perkotaan, maka pajak
bangunan di tempat ini lebih kecil dibanding jika bangunan industri ada di
perkotaan. |
Pajak lebih mahal, karena daerah bekasi sudah mulai
berkembang dan banyak industri. |
Berdasarkan
perbandingan tersebut, maka akan dibuat matriks sebagai metode penilaian dalam
pemilihan lokasi.
Tabel 1.7
Matriks Pemilihan Lokasi
Pabrik
|
Kriteria |
Bobot |
Lokasi |
|||||
|
Indramayu |
Karawang |
Bekasi |
|||||
|
Nilai |
Jumlah |
Nilai |
Jumlah |
Nilai |
Jumlah |
||
|
Bahan Baku |
20 |
3 |
60 |
4 |
80 |
3 |
60 |
|
Letak Pasar |
25 |
4 |
100 |
2 |
50 |
2 |
50 |
|
Transportasi |
20 |
2 |
40 |
3 |
60 |
4 |
80 |
|
Kondisi Masyarakat |
10 |
4 |
40 |
4 |
40 |
3 |
30 |
|
Utilitas |
25 |
2 |
50 |
3 |
75 |
3 |
75 |
|
Biaya Pembebasan Lahan |
10 |
3 |
30 |
3 |
30 |
1 |
10 |
|
Pajak Bangunan |
15 |
3 |
45 |
3 |
45 |
2 |
30 |
|
Total |
|
|
365 |
|
360 |
|
335 |
0
= Buruk sekali 1 : Buruk 2 : Cukup 3 : Baik 4:
Baik Sekali
· Kriteria
Bahan Baku
Bobot
20 untuk bahan baku karena ketersediaan bahan baku merupakan hal yang penting
demi kelangsungan pabrik ini. Yang ditinjau dari bahan baku ini adalah seberapa
dekat pabrik dengan bahan baku dan kemudahan bahan baku ini dikirim ke lokasi
pabrik.
· Kriteria
Letak Pasar
Bobot 25 untuk letak pasar karena letak pasar sangat
penting dalam berjalannya pabrik ini. Semakin dekat lokasi pabrik dengan pasar
dan mudah dalam pendistribusiannya maka lokasi pabrik akan semakin baik.
· Kriteria
Transportasi
Bobot 20 untuk transportasi dikarenakan sarana
transportasi sangat penting dalam hal pengiriman bahan baku dan produk pabrik
ini. Tinjauannya adalah seberapa mudah pabrik ini dapat diakses dari luar dan
dapat dilalui oleh kendaraan bermotor.
· Kriteria
Kondisi Masyarakat
Bobot
10 untuk kondisi masyarakat berdasarkan tinjauan ketersediaan tenaga kerja dan
keadaan sosial masyarakat di sekitar lokasi pabrik.
· Kriteria
Utilitas
Bobot
25 untuk utilitas berdasarkan ketersediaan pasokan air dan listrik yang sangat
menunjang berjalannya dan
keberlangsungan pabrik ini.
· Kriteria
Biaya Pembebasan Lahan
Bobot
10 untuk biaya pembebasan lahan berdasarkan tinjauan berapa biaya yang
dikeluarkan untuk membeli lahan untuk dibangunnya pabrik ini. Semakin murah
harga suatu lahan, maka akan semakin baik.
· Kriteria
Pajak Pembangunan
Bobot
15 untuk pajak pembangunan berdasarkan letak lokasi pabrik ini berdiri. Lokasi
yang berada di daerah yang berkembang tentunya akan semakin besar daripada
lokasi yang berada di daerah yang belum berkembang.
Berdasarkan analisis matriks di atas,
daerah Indramayu mempunyai pasokan sumber bahan baku lebih banyak, yakni dari
daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Selain itu pendistribusian hasil produk
lebih mudah dan dekat dengan pasar. Sedangkan untuk daerah Karawang dan Bekasi
pasokan bahan baku lebih mengandalkan yang berasal dari Jawa Barat. Sedangkan
untuk aspek tenaga kerja, kondisi alam dan iklim, keadaan penduduk sekitar,
daerah Karawang dan Indramayu terbilang hampir sama, tetapi tidak dengan
Bekasi. Sehingga berdasarkan analisis tersebut, dipilih daerah Indramayu
sebagai lokasi berdirinya pabrik Biodiesel ini.
Indramayu merupakan kabupaten yang
sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian. Lahan panen daerah ini, pada
tahun 2017
mencapai 235316 ha.
Di Provinsi Jawa Barat, Indramayu merupakan kabupaten dengan sawah terluas,
yaitu 235316 hektar, atau hampir 60%
dari total luas kabupaten. Produktivitas sawah di kabupaten ini juga terbilang
tinggi, yaitu rata-rata 59,27
ton per hektar. Dengan tingkat produktivitas sebesar itu,
Indramayu merupakan penyumbang hasil panen padi terbesar kedua di Jawa Barat
setelah Cianjur, yaitu 1.394.771,74
ton pertahun atau 11,25% dari total produksi di propinsi ini (Badan Pusat Stastistik,2017).
Di daerah Indramayu ini juga terdapat PT. Pertamina (Persero) UP VI Balongan,
yang menjadi target pemasaran produk biodiesel ini. Dengan bahan baku dan pasar
yang menunjang, maka daerah ini cocok untuk menjadi lokasi pilihan berdirinya
pabrik Biodiesel.
Gambar 1.4 Peta Daerah Indramayu
0 Response to "Sekam Padi Sebagai Bahan Pembuatan Biodesel Energi Terbarukan Masa Depan"
Post a Comment