Peranan Software ALOHA Mengidentifikasi Kebocoran dan Ledakan Gas Industri Petrokimia
Industri
kimia lebih beragam dari pada semua industri lainnya. Produknya ada dimana-mana.
Bahan kimia adalah blok bangunan untuk produk yang memenuhi kebutuhan dari segi
makanan, tempat tinggal, kesehatan, serta produk yang penting bagi dunia
teknologi tinggi komputasi, telekomunikasi dan bioteknologi. Bahan kimia adalah
batu kunci manufaktur penting untuk seluruh rangkaian industri seperti farmasi,
mobil, tekstil, furnitur, cat, kertas, elektronik, pertanian, konstruksi,
peralatan dan jasa. Sulit untuk sepenuhnya menghitung penggunaan produk dan
proses kimia. Dunia tanpa indusri kimia akan kekurangan hal-hal tersebut.
Selama
tahun 1800-an, ahli kimia menemukan sekitar setengah dari 100 unsur yang diketahui.
Setelah tahun 1850, bahan kimia organik, seperti pewarna tar batu bara, obat-obatan,
bahan peledak, nitrogliserin, dan plastik seloluid dikembangkan dan di
produksi. Perang dunia II menciptakan kebutuhan baru dan proses kimia yang
lebih baik untuk amunisi, serat, logam ringan, karet sintesis dan bahan bakar.
(Sanders R.E, 2005)
Tahun
1930-an menjadi saksi produksi neoprene (1930), polietilen (1933), nilon (1937),
dan fiber glass (1938), yang menandai dimulainya produksi plastik menggantikan bahan
alami. Plastik ini secara radikal mempengaruhi bagaimana benda-benda dirancang,
dibangun, dan dikemas. Setelah perang dunia II , perluasan industri penyulingan
minyak bumi dan proses kimia jauh melampui industri manufaktur lainnya.
Industri kimia sangat berbeda dengan industri lain karena sifat cairan dan gas
yang beracun dan mudah terbakar. Secara alami, penanganan dan penyimpanan bahan
berbahaya menghadirkan potensi bahaya yang seringkali jauh lebih besar daripada
yang ditimbulkan oleh industri tradisional. (Sanders R. E, 2005)
Pada
tahun 1950-an dan 1960-an, pemrosesan kimia menjadi semakin canggih, dengan
persediaan bahan kimia korosif, beracun, dan mudah terbakar yang lebih besar, suhu
yang lebih tinggi, dan tekanan yang lebih tinggi. Itu menjadi tidak lagi dapat
diterima untuk satu individu yang bermaksud baik dengan cepat mengubah desain
atau pengoperasian pabrik kimia atau petrokimia tanpa meninjau efek samping
dari modifikasi ini. Banyak kasus sejarah kecelakaan proses yang signifikan
dengan jelas menunjukkan contoh individu yang terfokus sempit dan banyak akal
yang dengan cerdik memecahkan masalah tertentu yang mengganggu tanpa memeriksa
kemungkinan konsekuensi lain yang tidak diinginkan. (Sanders R.E, 2005)
Belajar
dari sejarah tragedi Bhopal India 3 desember 1984, tragedi terjadi dari Pabrik
Union Carbide Pesticide. Pabrik yang dahulunya mendapat julukan “The big Multifunctional
Chemical Industry” yang menewaskan ribuan orang akibat kesalahan prosedur
kerja. Penyebab kejadian ini di karenakan air masuk ke dalam tangki yang berisi
MIC (Methyl Isocyanate) yang beroperasi. Sehingga membuat vessel mengalami
tekanan tinggi dan reaksi tidak terkontrol. Pressure vapor MIC release dan
untuk mencegah kebocoran gas pada vessel seharusnya gas MIC harus dikirim ke
scrubber untuk di cairkan dan di hilangkan kandungan airnya. Namun pada saat
itu Scrubber dalam keadaan tidak beroperasi karena pada kejadian tersebut
sedang dilakukan maintence, oleh karena nya kebanyakan peralatan proses dalam
keadaan mati. Akhirya gas MIC release ke atmosfir di malam hari, kondisi cuaca
dingin. Akibatnya gas MIC konsentrasinya menjadi tinggi dan masuk ke rumah
warga sekitar bhopal dan ditemukan sekitar 4000 orang meningal, 574.386 cacat
ringan dan 4000 orang cacat permanen di hari pertama kejadian. Bahkan tragedi
ini di sebut dengan (There are Worst Chemical Incident In the World). (Source:
US CSB).
Untuk
mencegah terjadinnya kecelakaan kerja di perlukan seseorang yang ahli dan berpengalaman
untuk menangani dan memanipulasi agar tidak terjadi kecelakaan kerja yaitu
Safety Engineer. Tugas dan peran safety engineer adalah mengidentifikasi serta pemetaan
dari potensi bahaya yang berpeluang terjadi pada lingkungan kerja, membuat dan memelihara
terkait dokumen K3 dan lain sebagainya. PT. X, Cilegon, Banten adalah adalah
produsen petrokimia utama di Indonesia dengan pabrik terintegrasi yang
menggabungkan teknologi canggih dan fasilitas pendukung kelas dunia.
Pengoperasikan satu-satunya Naphtha Cracker yang memproduksi Olefins dan
Polyolefins berkualitas tinggi, dan merupakan satu-satunya produsen Styrene Monomer
dan Butadiene dalam negeri. Nafta yang di cracking menjadi produk ethylene dan
propilen. Kemudian dari ethylene dan propilen dijadikan produk turunannya
berupa polietilene dan polipropilen.
Hydrocarbon
release venting dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup no.
13tahun 2009 tentang baku mutu sumber tidak bergerak bagi usaha dan atau
kegiatan minyak dan gas bumi adalah pelepasan gas-gas hidrokarbon yang
disengaja dan bersifat kontinyu atau tidak menerus yang dihasilkan dari
kegiatan operasi minyak dan gas yaitu dari proses separasi fluida, ke udara
terbuka melalui cerobong tetap.
Hydrocarbon
release dalam kondisi normal diartikan sebagai lepasnya gas
dalam produksi petrochemical dan migas secara terkontrol ke atmosfer. Gas yang
di hydrocarbon release biasanya adalah hidrokarbon, uap air, dan gas lainnya
seperti karbondioksida yang tidak di inginkan dalam proses minyak dan gas bumi
(Kearns, 2000).
Gas
Ethylene merupakan gas hidrokarbon yang berbau samar dan beracun jika terhirup
makhluk hidup khususnya biota lingkungan air. Ethylene merupakan gas yang berpotensi
menimbulkan adanya kebakaran dan keracunan.
Setiap
pengoperasian pengolahan produk tidak akan selalu berjalan lancar. Pasti terdapat
hazard dan resiko yang bisa disebabkan dari kesalahan sistem manajemen maupun sumber
daya manusia. Dalam penelitian ini ingin membuat studi kasus dengan melakukan simulasi
terhadap PT.X untuk mengkalkulasi kuantitatif hazard, radius penyabaran dispersi
dengan metode gaussian pasquill ghiffort menggunkan sofware ALOHA
0 Response to "Peranan Software ALOHA Mengidentifikasi Kebocoran dan Ledakan Gas Industri Petrokimia"
Post a Comment